Rabu, 12 Desember 2007

Muridku Masa Depan Bangsaku
Murid-muridku begitu mengabaikan beban yang seharusnya disandang begitu berat. Aku begitu takut melihat hal itu, tetapi beda dengan mereka, rasanya permasalahan itu tak ada di hadapan matanya. Setiap hari yang ada adalah kebahagiaan dan keceriaan. Nilai-nilai ulangan yang didapat walau hanya sebatas KKM-kriteria ketuntasan minimal-, bahkan ada juga yang jauh dari KKM, tetap saja bisa tertawa. Kata mereka, “Semua sama. Paling-paling nanti diremidi”

Di dalam hati aku bertanya inikah wajah masa depan bangsa. Hal ini menggejala dalam pikiran karena aku melihat hampir semua teman guru juga mengeluhkan akan hal itu. Sudah beberapa langkah metode kugunakan – ada CTL, quantum teaching -, juga ajakan atau bahkan peringatan kugunakan untuk mengatasi hal itu, namun yang kutemukan masih tetap saja tidak adanya bangunan motivasi untuk maju dalam diri murid-muridku tersayang.

Aku pun terus berangan, mungkinkah ini karena yang ada di sekeliling anak kebanyakan adalah hal-hal yang menarik-narik emosi duniawinya – coba saja bisa dilihat pada tayangan banyak sinetron yang hanya merekam dunia cinta muda-mudi, mengeksploitasi dunia mistis, kekerasan, gossip, atau dunia kontroversi. Ataukah aku yang tak mau tahu tentang cara berpikir anak bahwa semuanya adalah main-main, semua yang ada adalah sahabat, semua ada adalah kesan mata . Sehingga, semuanya harus dihadapi dengan kegembiraan dan nikmat enak.

Padahal, seperti diketahui, di seberang sana yang tidak jauh dari dunia anak ada dunia kaca yang begitu bening menyejukkan menentramkan, itulah hati yang mulia. Hati yang dipenuhi pendar-pendar cahaya kasih sayang. Semua itu tentu harus dibangun secara perlahan-lahan melalui sifat-sifat mulia dan kesempurnaan. Semua harus ditekuni dengan kehidupan keseharian. Mungkinkah masa depan bangsaku hanyalah dipenuhi kumpulan manusia dengan hati yang lembek, tanpa motivasi, manusia yang tanpa merencanakan target-target pencapaian menuju manusia sempurna? Sungguh tragis. Apalagi mereka selalu dicekoki soal-soal. Semoga masa depan bangsaku tidak setragis nasib pulau-pulau di Nusantara ini yang sebentar lagi (kurang lebih 15 tahun lagi) tenggelam terkena dampak pemanasan global.

Tidak ada komentar: